Postingan Populer

Senin, 25 September 2017

Jatuh cinta dengan Keretanya Sitok Srengenge

Saya tidak mengenal Sitok Srengenge secara pribadi. Saya hanya pernah membaca puisinya yang berjudul kereta pada sebuah lembaran kertas yang tidak sengaja saya temukan pada tumpukan kertas yang hendak dijual di rumah teman. Saat saya membaca kalimat pertama, saya merasa tertarik untuk membaca kalimat berikutnya. Ada pesan begitu sedih nan syahdu yang disampaikan dalam puisi itu.
Saya membaca baris demi baris. Bait demi bait. Sedyih buanget. Seakan-akan puisi itu memang beliau ciptakan untuk saya yang pernah mengalami hubungan serupa. Sebuah hubungan yang dijalin dan tidak berakhir pada sebuah pernikahan memang menyakitkan. Apa lagi jika sudah ditambah beda keyakinan, tidak disetujui orang tua pula. Beuuuuhhh,, lengkap sudah sakitnya.

Terlepas dari masalah yang pernah menjeratnya beberapa tahun yang lalu, saya tetap menghargai karya Sitok Srengege yang benar-benar keren. Sebagai seorang perempuan, ada yang aneh juga dalam kasus itu. Kok, ya,,,? Ah, sudahlah. Saya tidak mau berasumsi terlalu jauh. Bukan kapasitas saya untuk ikut berkomentar atas persoalan orang lain.
Hahaha,,,tapi jika boleh jujur, di usianya yang menginjak 52 tahun, beliau masih terlihat bugar, bahkan begitu menarik untuk dijadikan pacar. (Gustiii,,,,Istigfar, Fit!!!).
Oh, iya, puisi  yang berjudul kereta sengaja saya tuliskan ulang karena saya begitu suka.

Kereta
1
Sendiri di stasiun tugu,
entah siapa yang ia tunggu
Orang-orang datang dan lalu
ia cuma termangu

sepasang orang muda berpelukan
(sebelum pisah) seolah memeluk harapan
Ia mendesis,
serasa mengecap dusta yang manis

Kapankah benih kenangan pertama kali tumbuh,
kenapa ingatan begitu rapuh?
Cinta mungki sempurna,
tapi asmara sering merana

ia tatap rel menjauh dan lenyap di dalam gelap
: di mana ujung perjalanan, kapan akhir penantian?
Lengking peluit, roda + roda besi berderit
Tepat ketika jauh di hulu hatinya terasa sisa sakit

2
Andai akulah gerbong kosong itu,
akan kubawa kau dalam seluruh
perjalananku

Di antara orang berlalang-lalu,
ada masinis dan para porter
Di antara kenanganku denganmu,
ada yang berpangkal manis berujung getir

Cahaya biru berkelebat dalam gelap,
Kunang-kunang di gerumbul malam
Serupa harapanku padamu yang lindap,
Tinggal kanangan timbul tenggelam
Dua garis rel itu, seperti kau dan aku,
Hanya bersama tapi tak bertemu
Bagai balok-balok bantalan tangan kita bertautan,
terlalu berat menahan beban

Di persimpangan kau akan bertemu garis lain,
begitu pula aku
kau akan jadi kemarin
kukenang sebagai pengantar esokku

Mungkin kita hanya penumpang,
duduk berdampingan tapi tak berbincang,
dalam gerbong yang beringsut
ke perhentian berikut

Mungkin kau akan tertidur dan bermimpi tentang bukan aku
Sedang aku terus melantur mencari mata air rindu
Tidak, aku tahu, tak ada kereta menjelang mata air
Mungkin kau petualang yang (semoga tak)
Menganggapku tempat parker

Kita berjalan dalam kereta berjalan
Kereta melaju dalam waktu melaju
Kau-aku tak saling tuju
Kau-aku selisipan dalam rindu

Jadilah masinis bagi kereta waktumu
Menembus padang lembah gulita
Tak perlu tangis jika kita sua suatu waktu,
Sebab segalanya telah beda

Aku tak tahu kapan keretaku akan letih,
tapi aku tahu dalam buku harianku kau tak lebih dari

sebaris kalimat sedih

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Kusuka tulisanmu

Tugas Akhir Pembatik Level 4 Tahun 2023

Hei...hei...hei...Sahabat Teknologi Yogyakarta tahun 2023. Bagaimana nih, progres tugas akhir PembaTIKnya? Hari ini tenggat terakhirnya, loh...