Saya tidak mengenal
Sitok Srengenge secara pribadi. Saya hanya pernah membaca puisinya yang
berjudul kereta pada sebuah lembaran kertas yang tidak sengaja saya temukan
pada tumpukan kertas yang hendak dijual di rumah teman. Saat saya membaca
kalimat pertama, saya merasa tertarik untuk membaca kalimat berikutnya. Ada pesan
begitu sedih nan syahdu yang disampaikan dalam puisi itu.
Saya membaca baris demi
baris. Bait demi bait. Sedyih buanget. Seakan-akan puisi itu memang beliau
ciptakan untuk saya yang pernah mengalami hubungan serupa. Sebuah hubungan yang
dijalin dan tidak berakhir pada sebuah pernikahan memang menyakitkan. Apa lagi
jika sudah ditambah beda keyakinan, tidak disetujui orang tua pula. Beuuuuhhh,,
lengkap sudah sakitnya.
Terlepas dari masalah
yang pernah menjeratnya beberapa tahun yang lalu, saya tetap menghargai karya
Sitok Srengege yang benar-benar keren. Sebagai seorang perempuan, ada yang aneh
juga dalam kasus itu. Kok, ya,,,? Ah, sudahlah. Saya tidak mau berasumsi
terlalu jauh. Bukan kapasitas saya untuk ikut berkomentar atas persoalan orang
lain.
Hahaha,,,tapi jika
boleh jujur, di usianya yang menginjak 52 tahun, beliau masih terlihat bugar,
bahkan begitu menarik untuk dijadikan pacar. (Gustiii,,,,Istigfar, Fit!!!).
Oh, iya, puisi yang berjudul kereta sengaja saya tuliskan
ulang karena saya begitu suka.
Kereta
1
Sendiri di stasiun
tugu,
entah siapa yang ia
tunggu
Orang-orang datang dan
lalu
ia cuma termangu
sepasang orang muda
berpelukan
(sebelum pisah) seolah
memeluk harapan
Ia mendesis,
serasa mengecap dusta
yang manis
Kapankah benih kenangan
pertama kali tumbuh,
kenapa ingatan begitu
rapuh?
Cinta mungki sempurna,
tapi asmara sering
merana
ia tatap rel menjauh
dan lenyap di dalam gelap
: di mana ujung
perjalanan, kapan akhir penantian?
Lengking peluit, roda +
roda besi berderit
Tepat ketika jauh di
hulu hatinya terasa sisa sakit
2
Andai akulah gerbong
kosong itu,
akan kubawa kau dalam
seluruh
perjalananku
Di antara orang
berlalang-lalu,
ada masinis dan para
porter
Di antara kenanganku
denganmu,
ada yang berpangkal
manis berujung getir
Cahaya biru berkelebat
dalam gelap,
Kunang-kunang di
gerumbul malam
Serupa harapanku padamu
yang lindap,
Tinggal kanangan timbul
tenggelam
Dua garis rel itu,
seperti kau dan aku,
Hanya bersama tapi tak
bertemu
Bagai balok-balok
bantalan tangan kita bertautan,
terlalu berat menahan
beban
Di persimpangan kau
akan bertemu garis lain,
begitu pula aku
kau akan jadi kemarin
kukenang sebagai
pengantar esokku
Mungkin kita hanya
penumpang,
duduk berdampingan tapi
tak berbincang,
dalam gerbong yang
beringsut
ke perhentian berikut
Mungkin kau akan
tertidur dan bermimpi tentang bukan aku
Sedang aku terus
melantur mencari mata air rindu
Tidak, aku tahu, tak
ada kereta menjelang mata air
Mungkin kau petualang
yang (semoga tak)
Menganggapku tempat parker
Kita berjalan dalam
kereta berjalan
Kereta melaju dalam
waktu melaju
Kau-aku tak saling tuju
Kau-aku selisipan dalam
rindu
Jadilah masinis bagi
kereta waktumu
Menembus padang lembah
gulita
Tak perlu tangis jika
kita sua suatu waktu,
Sebab segalanya telah
beda
Aku tak tahu kapan
keretaku akan letih,
tapi aku tahu dalam
buku harianku kau tak lebih dari
sebaris kalimat sedih
1 komentar:
Kusuka tulisanmu
Posting Komentar