Saya sering sekali termenung akhir-akhir ini. Pikiran saya sering kali melihat jauh pada masa lalu yang sudah terlewati, lima belas tahun yang lalu. Saya merasa sudah sangat jauh melangkah. Lima belas tahun lalu, ketika saya masih duduk di kelas 3 SD, ada banyak hal yang sama sekali tidak terpikirkan oleh saya. Waktu itu, dalam benak saya hanya ada dua kata, main dan jajan.
.
Saya tidak menyangka bahwa Tuhan menulis dalam Diary-Nya, bahwa saat ini saya bisa berada dalam situasi seperti ini. Dulu saya pernah membenci kakak kelas saya waktu SD, eh, malah sekarang saya beteman baik dengan dia. Dulu, saya pernah berteman baik dengan banyak orang (teman-teman sekelas) tapi sekarang mereka sudah sangat jauh dari saya. Saya tidak pernah menyangka bahwa “A good Book…” yang pernah saya lontarkan pada seseorang, akan menjadi bumerang bagi diri saya sendiri. Semuanya benar-benar terjadi diluar dugaan saya. Semua itu membuat saya sadar bahwa Tuhan mampu berbuat sekehendak Dia.
.
Sekarang, setelah lima belas tahun berlalu, saya merasa bahwa saya tidak ingin menjadi dewasa. Bukannya saya takut mati. Bukan itu maksudnya! Saya hanya tidak mau merasa bahwa saya mempunyai persoalan yang belum terselesaikan. Ada banyak hal yang ada dalam benak saya saat ini. Rasanya sudah seperti bisul mau pecah. Cenut…cenut…kadang-kadang, cenot…cenot….
.
Apakah saya menyesal dengan semua yang pernah saya jalani? Tidak juga. Ini bagian hidup saya. Bagian dari cerita yang ditulis Tuhan untuk saya. Bagian dari Diary Tuhan yang tak saya tahu alurnya seperti apa. Bagaimana dengan mimpi? Apakah saya berani bermimpi? Kalau kata Arai dalam Mozaik 15nya Andrea Hirata, mengatakan seperti ini, “…orang-orang seperti kita tak punya apa-apa, kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu….tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati…”.
.
Kata-kata Arai berbanding terbalik dengan saya. Jika Arai akan mati tanpa mimpi, justru saya mati karena pernah terlalu banyak bermimpi.
.
Saya tidak menyangka bahwa Tuhan menulis dalam Diary-Nya, bahwa saat ini saya bisa berada dalam situasi seperti ini. Dulu saya pernah membenci kakak kelas saya waktu SD, eh, malah sekarang saya beteman baik dengan dia. Dulu, saya pernah berteman baik dengan banyak orang (teman-teman sekelas) tapi sekarang mereka sudah sangat jauh dari saya. Saya tidak pernah menyangka bahwa “A good Book…” yang pernah saya lontarkan pada seseorang, akan menjadi bumerang bagi diri saya sendiri. Semuanya benar-benar terjadi diluar dugaan saya. Semua itu membuat saya sadar bahwa Tuhan mampu berbuat sekehendak Dia.
.
Sekarang, setelah lima belas tahun berlalu, saya merasa bahwa saya tidak ingin menjadi dewasa. Bukannya saya takut mati. Bukan itu maksudnya! Saya hanya tidak mau merasa bahwa saya mempunyai persoalan yang belum terselesaikan. Ada banyak hal yang ada dalam benak saya saat ini. Rasanya sudah seperti bisul mau pecah. Cenut…cenut…kadang-kadang, cenot…cenot….
.
Apakah saya menyesal dengan semua yang pernah saya jalani? Tidak juga. Ini bagian hidup saya. Bagian dari cerita yang ditulis Tuhan untuk saya. Bagian dari Diary Tuhan yang tak saya tahu alurnya seperti apa. Bagaimana dengan mimpi? Apakah saya berani bermimpi? Kalau kata Arai dalam Mozaik 15nya Andrea Hirata, mengatakan seperti ini, “…orang-orang seperti kita tak punya apa-apa, kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu….tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati…”.
.
Kata-kata Arai berbanding terbalik dengan saya. Jika Arai akan mati tanpa mimpi, justru saya mati karena pernah terlalu banyak bermimpi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar