Postingan Populer

Senin, 12 Februari 2018

Kenangan dalam Buah Anona Squamosa

Anona Squamosa atau oleh masyarakat tempat saya tinggal disebut dengan buah sirikaya, adalah buah yang saat ini sedang ledoh di daerah Gunungkidul. Situ tidak tahu arti kata ledoh? OK, saya jelaskan dulu, yes. Ledoh adalah istilah yang digunakan oleh masyarakat Tanjungsera untuk menyatakan jumlah yang sangat banyak. Mbludak-mbludak, lah!

Berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya, buah sirikaya di tempat saya tahun ini benar-benar panen besar. Kenapa saya sebut panen besar? Ya, karena hampir setiap pohon pasti berbuah lebat. Sila berkunjung ke pantai-pantai di daerah Tanjungsera-Tepus, di sepanjang jalan menuju kawasan wisata pantai, pasti banyak dijumpai pedagang yang menjual buah ini dalam keranjang plastik dengan harga yang bervariasi.

Sebenarnya, jika wisatawan mau repot sedikit dengan masuk kampung dan membeli langsung dari petani, wah, perbedaan harganya cukup lumayan, lho!

Sssttt…tapi ini rahasia. Jangan bilang siapa-siapa kalau saat ini harga buah sirikaya di Gunungkidul benar-benar miring, bahkan ambrol.

Beberapa pohon sirikaya yang ada di pekarangan saya berbuah sangat lebat. Belum lagi pohon-pohon sirikaya yang tumbuh di ladang. Minggu yang lalu, emak panen buah sirikaya. Cukup banyak daripada beberapa tahun sebelumnya. Disebut melimpah juga tidak apa-apa ding. Toh, memang minggu-minngu ini saya disuguhi buah sirikaya saat di rumah maupun saat main ke rumah teman.

Entah kenapa, buah sirikaya selalu mengingatkan saya dengan kenangan seperti halnya buah rambutan. Kenangan yang saat ini ingin sekali saya hapus secara permanen dari hidup saya. Tapi mustahil, bukan? Bagi saya, kenangan adalah bagian dari hidup saya. Setengah dari beberapa kepingan puzzle yang menjadikan cerita dalam hidup saya terangkai sempurna.

Saat ini, Tuhan sedang menyentil saya sekeras-kerasnya. Membangunkan saya secara paksa dari impian yang selama ini dibangun dengan pondasi yang salah. Saya telah menitipkan kepercayaan pada orang yang salah. Selama bertahun-tahun saya percaya tanpa ragu sedikitpun untuk setiap ucapannnya.

Yang membuat saya benar-benar terpukul, saya masih saja sms berkali-kali meski dia tidak membalas semua pesan saya. Saya selalu berfikir bahwa saya membuat kesalahan yang membuat wa saya diblokir berbulan-bulan. Dalam hati, saya yakin bahwa saya membuatnya jengkel seperti sebelum-sebelumnya. Akhir Desember 2017, dengan polosnya saya masih sms. Meminta sesuatu yang pernah kami rencanakan sebelumnya.
Jika saya ingat bahwa saya pernah benar-benar percaya, bahwa saya masih saja percaya di saat dia sudah kembali pada kehidupan lamanya, saya benar-benar merasa sakit sesakit-sakitnya.

Setidaknya, ada dua janji yang diucapkan pada saya. Kedua janji itu dibuat olehnya, tapi diingkari juga olehnya. Saya masih sangat ingat, ada beberapa hal-hal sederhana yang pernah diucapkan pada saya. Bahwa dia tidak suka makan dengan sayur bening, juga tetangnya yang lebih suka makan nasi daripada bakso saat jalan-jalan. Kata-kata sederhana seperti ini tidak pernah saya lupa. Apa lagi untuk dua janji yang diucapkannnya dan berkaitan dengan hidup saya. Bagaimana bisa saya lupa?

Janji tetaplah janji. Selama saya masih bernafas, janji itu akan tetap saya pegang. Suatu saat, Tuhan akan mengingatkan atau bahkan meminta tanggung jawabnya untuk janji itu. Saya tidak tahu dia menyesal atau tidak saat membuat hidup saya berantakan. Saya tidak tahu apakah ia pernah memikirkan hidup saya setelah sekian lama waktu yang kami lalui bersama.

Jika boleh jujur, saya sangat tersiksa akhir-akhir ini. saya tidak pernah bisa berhenti memikirkan apa yang dia lakukan pada saya. Berkali-kali saya mencari kesibukan agar saya lupa jika saya sudah dibohongi. Berusaha menghibur diri bahwa ia memang bukan lagi ‘dia’ yang saya kenal tujuh tahun yang lalu.

Iya. Saya mulai menerima keadaan bahwa ia mungkin hanya salah satu nama yang menjadi bagian dari kenangan saya. Meski begitu menyakitkan, setidaknya saya bisa tahu satu hal. Ia memang tidak pernah menempatkan saya sebagai bagian dari hidupnya.
Saya bersyukur bisa belajar dari kenangan. Dibohongi itu benar-benar menyakitkan. Sekarang saya tahu bahwa kesalahan selalu memberikan pembelajaran. Bahagia di atas air mata orang lain adalah rasa sakit yang tertunda. Seharusnya saya sadar sejak dulu, bahwa pada akhirnya, Tuhan lah yang selalu memegang kendali.

Manut,,,manut!! Patah satu tumbuh seribu!

Tidak ada komentar:

Tugas Akhir Pembatik Level 4 Tahun 2023

Hei...hei...hei...Sahabat Teknologi Yogyakarta tahun 2023. Bagaimana nih, progres tugas akhir PembaTIKnya? Hari ini tenggat terakhirnya, loh...