Postingan Populer

Senin, 12 Februari 2018

Begitu Asingkah Kita dengan Perbedaan?

Membaca berita tentang penyerangan di Gereja St Lidwina Bedhog, Trihanggo, Sleman, Yogyakarta, membuat saya benar-benar miris. Serangan oleh pria berpedang ini setidaknya membuat lima orang terluka, termasuk Romo Karl Edmund Prier yang merupakan pemimpin misa minggu pagi itu.

Kepala Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta, Brigjen Pol. Ahmad Dofiri menyatakan bahwa kasus ini tengah diselidiki oleh polisi. Peristiwa pada Minggu pagi itu berawal ketika pelaku masuk ke gereja melalui pintu barat dan menyerang seorang jemaat bernama Martinus Parmadi Sudiantoro. Belakangan diketahui bahwa pelaku penyerangan bernama Suliyono yang berasal dari Banyuwangi, Jawa timur. Sampai saat saya membuat tulisan ini, motif pelaku melakukan penyerangan masih belum jelas. Meskipun pelaku saat ini sudah diamankan oleh polisi dan menjalani perawatan di RS. Bhayangkara, saya tetap saya masih merasa geram.

Atau masih ingatkan dengan pengusiran Biksu Mulyanto Nurhalim di Tangerang yang kemudian dipaksa membaca sebuah surat perjanjian di hadapan warga yang mayoritas adalah warga yang seiman dengan saya?

Jika Njenegan mau melihat cuplikan videonya, sila klik di sini. Atau jika Njenengan merasa eman-eman dengan kuota, saya kutipkan sidikit isinya.

“…Pada hari ini, tanggal 4 Februari 2018 sampai hari Sabtu, tanggal 10 Februari 2018. Dan saya pun berjanji untuk tidak melakukan ritual atau ibadah dan melakukan kegiatan yang bersifat melibatkan warga umat Budha yang menimbulkan keresahan warga Desa Babat. Apabila d kemudian hari saya melanggar surat perjanjian ini, maka saya bersedia diproses sesuai hokum yang berlaku. Demikian surat pernyataan ini saya buat dalam keadaan tidak ada tekanan dari pihak manapun dan dalam keadaan sehat jasmani rohani…”

Dari artikel yang saya baca, ternyata Biksu Mulyanto Nurhalim adalah warga asli Desa Babat. Bahkan biksu Mulyanto Nurhalim juga berKTP di Desa Babat, yang artinya bahwa Biksu Mulyanto juga berhak tinggal dan melakukan ritual ibadahnya di rumahnya sendiri.

Mengapa kita menjadi begitu egois?

Saya juga seorang muslim. Tapi melihat bahwa masih ada orang yang dengan seenaknya melarang umat beragama lain untuk beribadah di rumahnya sendiri, benar-benar membuat saya malu. Apakah hanya umat Islam yang diperbolehkan beribadah di rumahnya sendiri sementara umat beragama lain tidak?

Sebagai seorang muslim yang sering (hampir selalu) beribadah di rumah, saya merasa bahwa apa yang diperbuat pada Biksu Mulyanto Nurhalim adalah ketidak adilan. Bagaimana tidak? Sebagai agama mayoritas di negeri ini, dengan seenaknya kita melakukan persekusi terhadap umat agama lain untuk beribadah di rumah sendiri. Dimana nurani kita? Sebegitu lemahkah iman kita sampai-sampai khawatir bahwa kita akan berbalik arah dari Tuhan hanya karena menyaksikan umat lain baribadah? Atau sebegitu rapuhkah iman kita hingga takut mendengar nyanyian, patung, dan segala atribut keagaaman umat lainnya?

Saya juga muslim, tapi saya benar-benar menyayangkan kejadian itu. Seandainya keadaan dibalik, bagaimana perasaan kita jika kita dilarang melakukan ibadah di rumah sendiri? Sakit, bukan?

Jika kita menelisik lebih jauh lagi ke belakang, banyak sekali ditemui kisah-kisah seperti dua kisah yang saya sebutkan barusan.

Banyak orang yang tersulut amarah dengan peristiwa ini. Banyak pula yang mengaitkannnya dengan isu-isu sara yang saat ini sedang marak disebarkan di media. Jika Njenengan termasuk salah satu anggota Grup Facebook terbesar di Jogja, tentunya Njenengan semua tahu bagaimana tanggapan masyarakat umum tentang peristiwa seperti ini. ada yang bijak berkomentar, tapi tak sedikit pula yang tersulut emosi dan membawa isu-isu sara dalam postingan komentarnya.

Begitu asingkah kita dengan keberagaman? Apakah kebebasan beragama yang diatur oleh Pancasila dan UUD 1945 memang sudah tidak berlaku di Indonesia?

Dewasa ini, toleransi yang katanya dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia, perlahan mulai luntur. Pandangan ini setidaknya dilatar belakangi oleh semakin meruncingnya hubungan antar umat beraga di Indonesia sejak dijadikan sebagai kendaraan politik pada Pilgub Jakarta lalu. Terkadang sekelompok orang yang mempunyai kepentingan akan memanfaatkan keberagaman umat beragama untuk mencapai apa yang mereka inginkan.

Sebagai generasi yang (katanya) penerus bangsa, ayolah, kita mulai dari diri sendiri untuk stop debat agama. Stop berbicara dan berpendapat seolah-olah bahwa kita dan pendapat kita yang paling benar. Agama adalah topik yang sangat sensitif karena menyangkut dengan Tuhan. Perbedaan pendapat tentang Tuhan inilah yang harus kita hargai.
Entah Njenengan beragama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, atau Budha, saya yakin bahwa setiap agama yang kita anut selalu mengajarkan kebaikan. Agama bukan diciptakan untuk membuat diri menjadi paling benar, bukan?

Saya sendiri memiliki banyak teman yang berbeda keyakinan dengan saya. Saya tumbuh di lingkungan yang mengajarakan keberagaman. Masjid dan gereja bukanlah sesuatu yang asing dengan saya. Kalau kelenteng dan pura, memang sedikit asing, karena di tempat saya tidak ada.

Stop mengkoreksi agama lain yang bukan agama kita. Mulai belajar bahwa hal itu bukanlah kapasitas kita untuk berkomentar untuk Tuhan dan keyakinan orang lain. Kalau kata emak, riskan.

Tapi yang terjadi di sekitar saya, tidak banyak orang yang mampu menghilangkan semua sekat perbedaan pandangan tentang Tuhan. Perbedaan budaya, moral, agama dan politik tentunya berpengaruh dalam penerimaan terhadap hal ini.

Njenegan pernah mendengar istilah backfire effect? Kalau belum, saya jelaskan sedikit. Backfire effect adalah gejala psikologis yang biasanya terjadi dalam setiap opini, saat kita sebagaimana manusia mengkoreksi  pandangan hidup, agama, dan keyakinan orang lain. Jika kita mau berfikir jernih, backfire effect sama saja dengan menyerang orang lain secara fisik. Dan tentu saja orang yang diserang akan bertahan dan balik menyerang.
Saya tidak akan mengatakan bahwa Njenengan harus meyakini A, B, atau C terhadap suatu hal. Saya juga tidak akan mengubah perspektif dan pandangan hidup orang lain. Tidak ada salahnya jika kita berusaha untuk berubah dan merubah pandangan terhadap orang lain yang memiliki perbedaan pandangan dengan kita.

Pada akhirnya, agama yang terbaik adalah agama yang keimananya ditemukan dan dirasakan, bukan karena diturunkan by default oleh orang tua. Mari kita mulai dari diri sendiri. Lakukan dari hal yang sederhana. Tidak ada yang salah dengan banyaknya perbedaan di antara kita. Biarkan perbedaan itu tetap ada karena Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika. So, it’s okay to stop, it’s okay to listen, then it’s okay to change.

https://tirto.id/motif-penyerangan-gereja-st-lidwina-sleman-masih-belum-jelas-cECg
https://solusik.com/kerukunan-toleransi-antar-umat-beragama/
https://mobile.twitter.comMProjo2019ref_src=twsrc%5Etfw&ref_url=https%3A%2F%2Fmojok.co%2Fredaksi%2Fkomen%2Fstatus%2Fkisah-di-balik-alasan-biksu-mulyanto-diusir%2F

Tidak ada komentar:

Tugas Akhir Pembatik Level 4 Tahun 2023

Hei...hei...hei...Sahabat Teknologi Yogyakarta tahun 2023. Bagaimana nih, progres tugas akhir PembaTIKnya? Hari ini tenggat terakhirnya, loh...