Adakah
yang belum tahu apa itu gaplek? Gaplek berasal dari singkong yang dikupas dan
dikeringkan. Gaplek adalah bahan baku utnk membuat tepung thiwul dan gathot
yang katanya legit dan gurih itu. Tapi kalo menurut lidah saya, ya, rasanya
biasa saja. Harga gaplek saat ini sekitar delapan ratus rupiah, tidak sebanding
dengan tenaga dan keringat yang
dikelluarkan untuk membuat singkong menjadi gaplek kering yang dijemur di
samping rumah.
Saat
musim hajatan seperti ini, hasil
penjualan satu karung gaplek tidak cukup untuk mengisi satu amplop untuk
njagong. Sampek saya segedhe ini, harga
gaplek belum pernah mencape serebumaratus sekilonya. Kadang heran juga, petani
daerah saya kok bisa hidup, padahal jika dihitung secara matematika, pengeluaran
mereka lebih besar daripada pemasukannya.
Seperti
kemarin sore. Saya njagong ke salah seorang kerabat di dusun tetangga. Setelah
sebelumya emak menjual berkaung-karung gaplek untuk isi amplopnya. Eh, nggak
ding. Maksud saya, tidak semuanya untuk isi amplop, tapi juga untuk beli
shampoo dan obat puli. Biasa, musim hajatan adalah musimnya panen nasi
bertenggok-tenggok. Nasi sebanyak itu tidak mungkin habis meski dibagikan
dengan tetangga dan saudara. Sssttt, obat puli adalah formalin yang sedang
balik nama, lho.
Itu
belum lagi ditambah acara asulan yang sudh menjadi agenda tahunan. Harga gaplek
tidak ada seumritnya jika sudah
disandingkan dengan satu kata tadi. Rasulan. Bagaimana tidak, saat upacara
rasulan, setiap rumah di kampung saya akan membuat sebanyk-banyak makanan untuk
disajikan kepada siapa pun yang datang ke rumah. Dari mulai jenang, juadah,
lapis, keripik pisang, keripik singkong, kacang telur, kacang bawang, sayur
lombok, tumis, ayam ingkung, nasi uduk, rempeyek, dan seabrek makanan lain.
Bagi
emak, rasulan adalah tradisi dari leluhur yang mesti dilestarikan. Bukan hanya
sebagai rangkaian proses perwujudan rasa syukur pada tuhan, tapi juga karena
adanya interaksi sosial yang timbul saat perayaan rasulan. Juga sebagai sarana
untuk menambah saudara. jangankan seseorang yang memang benar-benar masih
saudara, orang asing yang datang untuk rasulan pun akan dijamu dan diperlakukan
layaknya saudara sendiri. Begitulah, terlepas dari anggapan segelintir orang
yang sudah mulai mempersoalkan hukum boleh atau tidaknya tradisi ini, rasulan
tetap memiliki sisi positif yang harus dipertahankan.
Ada
banyak kegiatan yang diadakan oleh dusun untuk memeriahkan acara rasulan.
berbagai macam perlombaan seperti voly antar RT, lomba senam khusus ibu-ibu,
juga lomba untuk anak-anak. Belum lagi jika ada tontonan yang dikhususkan untuk
memeriahkan acara rasulan.
Iya.
Rasulan tidak lengkap tanpa tontonan.
Yang
paling terkenal, ya, Jathil, ndangdutan dan wayangan. Meriahnya acara rasulan
sejenak membuat masyarakat melupakan rutinitas di ladang. Hiburan seperti ini
juga sekaigus sebagai sarana untuk melupakan bon-bonan di warung yang nolnya
semakin beranak pinak pasca belanja kebutuhan rasul. Oh, eta terangkanlah!
Sepuluh
atau dua puluh tahun lagi, saya tidak tahu apakah tradisi rasulan masih
bertahan di kampung saya. Bukan karena masalah hukum boleh atau tidaknya acara
rasulan sepeti yang lebaran kemarin sempat menjadi perdebatan. Tapi karena
sebagian besar generasi saat ini adalah generasi yang lebih mengenal WeA, bebeem,
yutub, dan gugel daripada sothil, wajan, dan pawon. Melakukan sesuatu yang ribet dan melelahkan
sepertinya bukan keahlian generasi ini. Tapi
saya tidak pengeculian. Saya masih tahu apa itu pawon, sothil, wajan, kukusan,
dandang dan tetek bengek peralatan dapur khas orang kampug.
Saat
lebaran usai, sudah dipastikan bahwa rasulan adalah agenda prioritas masyarakat
kampung. Setelah bulan Juli berlalu, hasil panen juga ikut berlalu. Keperluan
anak sekolah, membeli air tanki, membeli jerami, dan seabrek kebutuhan lain. Meski tradisi ini
disebut juga dengan pesta panen, tapi menurut saya, lebih tepat jika disebut
dengan pesta bon-bonan. Jadi, tidak usah lagi meributkan tradisi seperti ini.
Rasulan bagi masayarakat yang tinggal di pedesaan adalah cara untuk menghibur
diri sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar