Postingan Populer

Rabu, 08 Agustus 2018

Renungan Ringan


Ada seorang teman lama yang bertemu dengan saya lebaran lalu. Ia bercerita banyak tentang hidupnya. Ada banyak hal yang ia ceritakan kepada saya. Pekerjaan, impian, dan tentunya hatinya yang terluka.

Saya hanya menjadi pendengar. Ia lebih banyak meluapkan kesedihan dan rasa kecewanya dari air matanya. Saya tahu ia begitu terpukul beberapa bulan ini. Setidaknya saya tahu itu karena ia sering sekali menghubungi saya saat ia sedang ada masalah.

Ia bertanya pada saya, bagaimana caranya memaafkan orang yang sudah sangat menyakiti hatinya
Saya menjawabnya singkat, “Aku ora ngerti. Dewekne jaluk ngapura?”

“Blas. Ora. Basa-basi yo ora,” jawabnya.

Meski kata maaf tidak bisa begitu saja menyembuhkan luka, mungkin ia akan sedikit terhibur jika ada kata maaf yang diucakan secara tulus. Ia berusaha memaafkan kesalahan seseorang yang bahkan sampai sekarang tidak (belum) mengucapkan kata maaf kepadanya.

Saya tidak bertanya lebih jauh tentang sosok yang membuatnya terluka. Mendengar ceritanya, saya sudah cukup paham dengan masalahnya.

Dalam hal mengelola hati dan emosi, saya merasa bahwa kawan saya lebih baik dibanding saya. Jika ia bisa memaafkan seseorang yang membuatnya terluka, saya malah sebaliknya. Saya adalah tipe pendendam yang tidak bisa begitu saja melupakan seseorang yang sudah melukai hati dan perasaan saya.

Jujur, ya. Saat saya teringat bahwa saya pernah merasa sakit karena lidah seseorang yang mahir berakrobat dan bermain silat, saya sering sekali mendoakan supaya ia diberikan umur yang panjang.
Eh, tapi jangan salah. Saya tidak sebaik itu. Saya berharap ia diberikan umur yang panjang agar saat sosok yang disayanginya mendapatkan hal yang sama persis seperti yang dilakukan olehnya pada saya, ia juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang menyayangi saya saat melihat saya terluka. Jahat sekali, kan? Iya.

Berulang kali saya berpikir seperti itu, berulang kali pula saya menepisnya. “Aduh, jangan jadi orang jahat,” nurani saya yang berbicara.

Tapi itu duuuuluuuuuuuu sekali.

Masih ada apem yang dihidangkan dalam piring keramik di depan kami. Dalam tradisi jawa, apem yang dibuat saat lebaran adalah symbol untuk kata ngapunten yang bermakna permintaan maaf. Dalam tradisi d kampung kami, bsaling memberikan apem saat lebaran, selain untuk menyambung silaturahmi juga sekaligus sebagai permintaan maaf. Maklum, kata pak ustad, manusia adalah tempatnya salah dan dosa.

Kalau tempatnya baju dan kerudung? Ya, lemari, kok.

Ups, garing? Iya. Kriuk? Iya.

Sebelum kawan saya pamit pulang, saya minta ia mencicipi apem buatan saya. dan tentunya juga saye beri nasehat pamungkas dari kata-kata Emak saya,”Jangan menyakiti jika tidak mau disakiti. Jangan melukai jika tidak mau dilukai. Ingat, kamu hanya akan menuai apa yang sudah kamu tanam. Jika kamu menanam angin, suatu saat kamu akan menuai badai. Jika kamu menumpahkan air mata, suatu saat air matamu yang akan ditumpahkan. Semesta ini bekerja sempurna, ia hanya akan mengembalikan apa yang kamu perbuat sebelumya. Karena itu, berhati-hatilah menyakiti hati seseorang jika tidak ingin suatu saat hatimu akan disakiti dengan cara yang sama pula.”

Tiba-tiba ingatan saya melesat jauh pada saat awal-awal kuliah dulu. Saya tertawa ngakak,,,kemudian tepok jidat sekencang-kencangnya.

Aduh, sakit!

Tidak ada komentar:

Tugas Akhir Pembatik Level 4 Tahun 2023

Hei...hei...hei...Sahabat Teknologi Yogyakarta tahun 2023. Bagaimana nih, progres tugas akhir PembaTIKnya? Hari ini tenggat terakhirnya, loh...