Ada seorang teman lama yang
bertemu dengan saya lebaran lalu. Ia bercerita banyak tentang hidupnya. Ada
banyak hal yang ia ceritakan kepada saya. Pekerjaan, impian, dan tentunya
hatinya yang terluka.
Saya hanya menjadi pendengar. Ia
lebih banyak meluapkan kesedihan dan rasa kecewanya dari air matanya. Saya tahu
ia begitu terpukul beberapa bulan ini. Setidaknya saya tahu itu karena ia
sering sekali menghubungi saya saat ia sedang ada masalah.
Ia bertanya pada saya, bagaimana
caranya memaafkan orang yang sudah sangat menyakiti hatinya
Saya menjawabnya singkat, “Aku
ora ngerti. Dewekne jaluk ngapura?”
“Blas. Ora. Basa-basi yo ora,”
jawabnya.
Meski kata maaf tidak bisa begitu
saja menyembuhkan luka, mungkin ia akan sedikit terhibur jika ada kata maaf
yang diucakan secara tulus. Ia berusaha memaafkan kesalahan seseorang yang
bahkan sampai sekarang tidak (belum) mengucapkan kata maaf kepadanya.
Saya tidak bertanya lebih jauh
tentang sosok yang membuatnya terluka. Mendengar ceritanya, saya sudah cukup
paham dengan masalahnya.
Dalam hal mengelola hati dan
emosi, saya merasa bahwa kawan saya lebih baik dibanding saya. Jika ia bisa
memaafkan seseorang yang membuatnya terluka, saya malah sebaliknya. Saya adalah
tipe pendendam yang tidak bisa begitu saja melupakan seseorang yang sudah
melukai hati dan perasaan saya.
Jujur, ya. Saat saya teringat
bahwa saya pernah merasa sakit karena lidah seseorang yang mahir berakrobat dan
bermain silat, saya sering sekali mendoakan supaya ia diberikan umur yang
panjang.
Eh, tapi jangan salah. Saya tidak
sebaik itu. Saya berharap ia diberikan umur yang panjang agar saat sosok yang
disayanginya mendapatkan hal yang sama persis seperti yang dilakukan olehnya
pada saya, ia juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang menyayangi
saya saat melihat saya terluka. Jahat sekali, kan? Iya.
Berulang kali saya berpikir
seperti itu, berulang kali pula saya menepisnya. “Aduh, jangan jadi orang
jahat,” nurani saya yang berbicara.
Tapi itu duuuuluuuuuuuu sekali.
Masih ada apem yang dihidangkan
dalam piring keramik di depan kami. Dalam tradisi jawa, apem yang dibuat saat
lebaran adalah symbol untuk kata ngapunten yang bermakna permintaan maaf. Dalam
tradisi d kampung kami, bsaling memberikan apem saat lebaran, selain untuk menyambung
silaturahmi juga sekaligus sebagai permintaan maaf. Maklum, kata pak ustad,
manusia adalah tempatnya salah dan dosa.
Kalau tempatnya baju dan kerudung? Ya, lemari, kok.
Ups, garing? Iya. Kriuk? Iya.
Sebelum kawan saya pamit pulang,
saya minta ia mencicipi apem buatan saya. dan tentunya juga saye beri nasehat
pamungkas dari kata-kata Emak saya,”Jangan menyakiti jika tidak mau disakiti.
Jangan melukai jika tidak mau dilukai. Ingat, kamu hanya akan menuai apa yang
sudah kamu tanam. Jika kamu menanam angin, suatu saat kamu akan menuai badai.
Jika kamu menumpahkan air mata, suatu saat air matamu yang akan ditumpahkan.
Semesta ini bekerja sempurna, ia hanya akan mengembalikan apa yang kamu perbuat
sebelumya. Karena itu, berhati-hatilah menyakiti hati seseorang jika tidak
ingin suatu saat hatimu akan disakiti dengan cara yang sama pula.”
Tiba-tiba ingatan saya melesat
jauh pada saat awal-awal kuliah dulu. Saya tertawa ngakak,,,kemudian tepok
jidat sekencang-kencangnya.
Aduh, sakit!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar