Postingan Populer

Selasa, 10 November 2020

Cah Nggunung dan Image yang Melekat Bersamanya

        Sebagai anak kampung yang numpang tidur di ruangan berukuran  tiga kali empat meter persegi, saya sering mendengar ungkapan Cah Nggunung. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Bahkan tukang nasi uduk di dekat kosan pun pernah berujar demikian.

        "Dari nggunung dapat kerja di sini, tuh, bejo Mbak. Di sini mudah air, juga bukan daerah terpencil,"

        Mendengar kalimat itu, auto pingin ngumpat sebenarnya. Akan tetapi kalimat umpatan yang sudah tersusun rapi urung saya lontarkan karena saya sudah berniat menjadi anak yang berbudi pekerti luhur. Yah, mau bagaimana lagi, kadang keinginan untuk membangun image anak sholehah mengalahkan sifat asli. Padahal, jika boleh jujur, saya ini nggak sholehah-sholehah amat. Saya ini pengingat yang ulung. Perkataan dan sikap yang menyakitkan bagi saya bertahu-tahun yang lalu pun masih saya ingat dengan jelas. Saya bukan pendendam, tapi sesuatu yang menyakitkan memang tidak mudah disembuhkan.

        Dari ungkapan Cah Nggunung tadi, akhirnya saya paham bahwa banyak orang di luar sana yang menganggap Gunungkidul adalah wilayah yang ndesit, kering, kurang air, serta masyarakatnya cenderung katrok, miskin, dan terbelakang. Pemahaman seperti itulah yang sampai sekarang masih tertanam dengan kuat di benak orang-orang luar Gunungkidul.

        Saya bukan anak bahasa, tapi kadang saya tahu bahwa ungkapan Cah Nggunung yang dikatakan dengan intonasi, gestur dan mimik muka tertentu, adalah bentuk dari basa-basi yang sudah sangat basi, bukan untuk mengakrabkan diri.

        Tidak seperti kawan-kawan lain yang kadang berujar dengan cukup kasar, " Woe, jebule isih urip, to Kowe?" Kalimat yang terdengar dengan cukup kasar, namun terdengar tulus lahir batin.



        Bisa tidak kita menilai seseorang tanpa melibatkan darimana ia berasal? Bisa tidak kita menilai seseorang tanpa melibatkan penampilan? 

        Sebenarnya hal yang wajar ketika kita menilai diri sendiri lebih baik dari orang lain. Sah-sah saja ketika kita merasa bahwa kita sudah merusaha memperbaiki diri dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Yang menjadikannya buruk, karena penilaian yang berlebih terhadap diri sendiri hingga membuat kita memandang rendah orang lain.

        Tanpa disadari, terkadang kita membuat benteng untuk diri sendiri. Membangun sekat yang tidak terlihat, dan meyakinkan diri bahwa kita lebih baik dari orang lain gegara ibadah yang kita lakukan. Merasa diri lebih baik hanya karena penampilan. 

        Tahu Bilal Bin Rabbah? Sahabat Rasul yang dianggap berbeda karena perbedaan warna kulitnya. Tidak heran, Tuhan kemudian menurunkan firmanNya dalam Al Hujurat: 13. Itulah bedanya Bilal dengan kita. Ketika Bilal mendapatkan cemoohan karena perbedaan warna kulit dan kasta karena dianggap lebih rendah di mata manusia, Tuhan langsung menegur dengan menurunkan wahyu tersebut. Sampai di sini seharusnya kita bisa belajar, bahwa merasa diri lebih baik dari orang lain bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan. Apa lagi jika sudah membawa warna kulit, orang tua, suku, dan agama.

        Terlalu jauh jika saya mengambil contoh rasisme di Amerika. Tentang George Floyd dan keributan sesudahnya. Kita ambil contoh yang terdekat saja. Papua. Tahu kan, bagaimana cerita tentang perlakuan diskriminatif dan rasisme terdadap warga Papua?

        Beberapa kali saya membaca artikel tentang perlakuan diskriminatif terhadap warga Papua. Saudara kita, satu bangsa, satu bahasa. tapi pernahkah kita berpikir, bagaimana sakitnya perasaan mereka saat kita sendiri memandang mereka seolah-olah bukan saudara hanya karena perbedaan warna kulit dan agamanya? 

        Common guys!!!

        Sudah saatnya bagi kita untuk belajar menghargai sesama, terlepas darimana asalnya, apapun sukunya, bagaimana pun caranya berkomunikasi dengan Tuhannya, maupun bagaimana logat bahasanya. Perbedaan bukanlah suatu yang menakutkan. Tuhan tidak pernah menciptakan perbedaan untuk menjadi bahan perdebatan. Seharusnya sebagai makhluk yang mengaku berTuhan, bukankah kita bisa belajar kebersamaan dari banyaknya perbedaan? Ingat, ya, Never  judge anyone by the opinion of others.

        


Tidak ada komentar:

Tugas Akhir Pembatik Level 4 Tahun 2023

Hei...hei...hei...Sahabat Teknologi Yogyakarta tahun 2023. Bagaimana nih, progres tugas akhir PembaTIKnya? Hari ini tenggat terakhirnya, loh...